Redaksi

Pimpinan Umum : Boy James Wa an Pimpinan Perusahaan : Amas Mulyana Pimpinan Redaksi/ Pelaksana Harian : Piryanto Wakil Pemimpin Redaksi : R. Iwan Yulistiawan Redaktur Pelaksana : Asep Mauludin Staf Inti Redaksi : Iwan Sugiarto, Suharto, Dajani , Piryono, Novan, Ahmad Fikri, Achmad Andri Said, Eko Priyanto, Jadin Bahrudin, Sutedja Manajer Sirkulasi. : - Deni Widakrisnara Manajer Iklan. : - Buncahya Manager Keuangan : - Yono Manager IT : - Bima Biro Bandung. : - A. Aulia Biro Sumedang. : - Ipan Ripan Biro Kuningan : - Aldin Biro Indramayu : - Mansyur Biro Majalengka : Biro Tangerang. : - Hasan Biro Bekasi : - Pirnendi Biro Kab. Cirebon : - Hapid Biro Kota Cirebon : - Gunawan Biro Kab. Kuningan : - Toni Riana Alamat Redaksi. : Perum Lovina Vilage Blok B. 18 Rt 01 Rw 06 Desa Kemlaka Gede ( Dawuan ) Kecamatan Tengah Tani Kab. Cirebon Pajajaran Merdeka Diterbitkan : PT. Pajajaran Merdeka Cakranusantara Berdasarkan Undang Undang Pers 40 Konsultan Hukum. : Diah Anggraeni,SH & Rekan

Kisah

Pages

Parlemen Jawa Barat

Sunday, November 12, 2017

Yunandar Eka Perwira Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat Hadiri West Java Coffe Festival (WJCF)

BANDUNG - Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat Yunandar Eka Perwira saat menghadiri West Java Coffe Festival (WJCF)  yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat, dalam sambutannya mengatakan saatnya kita memandang kopi bukan hanya sebagai bagian dari gaya hidup saja, namun harus mulai memandang kopi sebagai sebuah industri perkebunan yang potensial di Jawa Barat.
Menurut Yunandar, sebagai penghasil kopi nomor empat di dunia, Indonesia dalam hal ini Jawa Barat memiliki keuntungan karena memiliki lahan yang terbaik dan cocok untuk perkebunan kopi akibat banyaknya gunung vulkanik yang berpengaruh terhadap kesuburan lahan.
“Karena itu kita harus berkolaborasi dengan lebih baik mulai dari hulu ke hilir untuk mengembangkan industri kopi ini.”

Lebih lanjut dikatakan Yunandar saat ini kita dihadapkan pada permintaan pasar (demand) yang meningkat namun dari segi supply kita masih kekurangan. Inilah yang harus ditangani khususnya oleh Pemprov Jabar tentunya bersama-sama dengan masyarakat penghasil kopi.
“Kita jangan berpuas dengan kondisi sekarang, harus terus berusaha agar Jawa Barat menjadi provinsi penghasil kopi nomor satu di dunia.”
Pengembangan tidak hanya pada kopi arabika saja, namun kopi robusta juga perlu dikembangkan karena kedua jenis kopi tersebut bisa tumbuh di Jawa Barat.
Yunandar yang mengikuti perkembangan industri kopi di Jawa Barat, juga mengapresiasi penyelengaraan festival kopi ini yang menurutnya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Pada kesempatan yang sama, senada dengan apa yang disampaikan Yunandar, Asisten III Pemprov Jabar, M. Solihain saat membuka serta membacakan sambutan gubernur mengatakan perubahan gaya hidup masyarakat telah mendorong kinerja industri pengolahan kopi dalam negeri mengalami peningkatan signifikan sehingga perlu di dukung oleh pengembangan mulai dari hulu ke hilir.
“Pengembangan nilai tambah kopi serta penyediaan kualitas kopi yang konsisten perlu terus dilakukan,” demikian menurut Solihin.
Sebagaimana diketahui pada tahun 2016, luas perkebunan kopi di Jawa Barat adalah 33.889 Ha dengan produksi sebanyak 17.683 ton. Secara umum kualitas kopi Jawa Barat baik robusta maupun arabika tergolong mempunyai citarasa yang unik dan khas. Sejak 2013 kopi Jawa Barat sudah mulai diekspor meskipun belum bisa dikatakan banyak. (hms/red)