BANDUNG - APBN RP 350 MILIAR UNTUK BIJB DIBATALKAN
Tanggal 03 Oct 2017 19:32 WIB
Mungkinkah BIJB memberangkatkan Haji di tahun 2018? Ketika
rencana kucuran dana APBN sebesar Rp 350 miliar pada tahun
anggaran 2018 dibatalkan.
Dana sebesar itu pada mulanya untuk merealisasikan runway
BIJB Kertajati menjadi sepanjang 3.000 meter.
Demikian pernyataan
Kementerian Perhubungan Republik Indonesia ketika Komisi IV DPRD
Provinsi Jawa Barat berkonsultasi ke Jakarta seperti dikutip Wakil Ketua
Komisi IV DPRD Provinsi Jabar Daddy Rohanady di Bandung Selasa
(03/09/2017).
Daddy menyatakan, "Dana sebesar itu dibatalkan
pengalokasiannya oleh Kementerian Perhubungan. Padahal, dana
tersebut diplot untuk menyelesaikan pembangunan runway pada tahun
2018. Dampaknya tentu sangat signifikan karena samapi saat ini runway
baru 2.500 meter."
Mengingat dampak pembatalan itulah kemudian Komisi IV
melakukan rapat koordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi Jabar
dan PT BIJB di lokasi bandara yang terletak di Kabupaten Majalengka
tersebut. Dalam rapat terungkap bahwa PT BIJB juga merasa terkejut
dengan adanya pembatalan alokasi dana APBN tersebut.
"PT BIJB sendiri terkejut mendengar pembatalan itu. Mereka
memang pada mulanya lebih concern pada pembangunan sisi darat
sedangkan pembangunan sisi udara didanai APBN," tambah Daddy
yang juga Wakil Ketua DPD Partai Gerindra dan berasal dari dapil
CirebonIndramayu tersebut.
Perjanjian Kerja Sama antara PT BIJB dengan PT Angkasa Pura
II sebagai akibat berlakunya PP Nomor 40 Tahun 2012 yang tidak memperkenankan masuknya APBN.
Kemenhub berjanji akan mengingatkan agar PT AP II dengan posisinya sebagai operator BIJB Kertajati terus menyelesaikan rencana pekerjaan sebagaimana yang sudah diplot,
Termasuk memperpanjang runway menjadi 3.000 meter.
"Kami tidak ingin hanya karena adanya MoU PT BIJB dengan PT AP II lantas pembangunan bandara tersebut menjadi tersendat apalagi mangkrak. Pembangunan BIJB Kertajati
amat diharapkan segera selesai sehingga dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi masyarakat Jawa Barat. Mengapa? Beroperasinya BIJB Kertajati pasti akan menjadi salah satu
pengungkit percepatan laju perekonomian Jabar. Jadi, kami sangat berharap agar pembangunan bandara di atas lahan 980 hektre itu segera terwujud," ujar Daddy.
Meskipun Kemenhub sudah menunjuk PT AP II yang menjadi operator, masih ada beberapa hal yang harus dibicarakan secara serius antara PT BIJB dengan PT AP II. Misalnya, soal
besaran saham masingmasing pihak dan kewajiban setoran modal serta tenor PT AP II menjadi operator.
Pengoperasian sebuah bandara memang bukanlah perkara mudah. "Seandainya PT AP II tidak bersedia melanjutkan pembangunan runway menjadi 3.000 meter, tampaknya
pemberangkatan haji dari BIJB Kertajati pertama kali pada tahun 2018 hanyalah isapan jempol belaka. Pertanyaannya: siapkah PT BIJB mengantisipasi kemungkinan tersebut?" pungkasnya
