Redaksi

Pimpinan Umum : Boy James Wa an Pimpinan Perusahaan : Amas Mulyana Pimpinan Redaksi/ Pelaksana Harian : Piryanto Wakil Pemimpin Redaksi : R. Iwan Yulistiawan Redaktur Pelaksana : Asep Mauludin Staf Inti Redaksi : Iwan Sugiarto, Suharto, Dajani , Piryono, Novan, Ahmad Fikri, Achmad Andri Said, Eko Priyanto, Jadin Bahrudin, Sutedja Manajer Sirkulasi. : - Deni Widakrisnara Manajer Iklan. : - Buncahya Manager Keuangan : - Yono Manager IT : - Bima Biro Bandung. : - A. Aulia Biro Sumedang. : - Ipan Ripan Biro Kuningan : - Aldin Biro Indramayu : - Mansyur Biro Majalengka : Biro Tangerang. : - Hasan Biro Bekasi : - Pirnendi Biro Kab. Cirebon : - Hapid Biro Kota Cirebon : - Gunawan Biro Kab. Kuningan : - Toni Riana Alamat Redaksi. : Perum Lovina Vilage Blok B. 18 Rt 01 Rw 06 Desa Kemlaka Gede ( Dawuan ) Kecamatan Tengah Tani Kab. Cirebon Pajajaran Merdeka Diterbitkan : PT. Pajajaran Merdeka Cakranusantara Berdasarkan Undang Undang Pers 40 Konsultan Hukum. : Diah Anggraeni,SH & Rekan

Kisah

Pages

Parlemen Jawa Barat

Saturday, March 23, 2019

Fadli Zon Katakan Banyak Lembaga Survei Jadi Predator Politik

JAKARTA - lembaga survey bak jamur di musim penghujan dari sekian lembaga survey yang ada ada yang akurat, ada yang setengah akurat bahkan ada yang jauh dari kata akurat. Namun terlepas akurat dan tidaknya lembaga survey tersebut lembaga survey menjadi trend tersendiri di kalangan masyarakat kita, dan menyikapi hal tersebut Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengkritisi hal tersebut.


Fadli Zon  menyebutkan bahwa perkembangan Lembaga Survey di Indonesia berimpitan dengan institusi konsultan politik. Hal itu memicu conflict of interest
Fadli menilai ini merupakan persoalan yang mendasar. “Dia akan menjadikan survei itu sebagai alat propaganda, alat kampanye dari yang meng-hire dia sebagai konsultan politik,” kata Fadli dalam diskusi Survei Pemilu, Realita atau Rekayasa di gedung DPR, Jakarta, Kamis (21/3) lalu.

Dia mengatakan, dalam kenyataannya banyak lembaga survei di Indonesia merangkap menjadi konsultan politik. Bukan sebagai lembaga survei independen. “Dia sebetulnya diam-diam sudah punya kolaborasi dengan salah satu kontestan, apakah itu di pilkada atau pilpres ataukah dengan partai politik,” ujarnya.

Menurut dia, lembaga yang seperti itu mendapat kontrak, dibayar untuk beberapa kali survei. Nah, kata Fadli, terkadang mereka sekaligus juga menjadi konsultan politik. Dia menegaskan bahwa hal inilah yang terkadang membuat lembaga survei, meskipun tidak semuanya, menjadi predator politi

Inilah yang membuat lembaga survei itu sebetulnya bisa menjadi predator demokrasi, predator politik karena mereka ini menjadi mafia survei. Tidak semua ya,” katanya.

Fadli melanjutkan, lembaga survei yang dia maksud itu bukan lagi menciptakan suatu gambaran publik yang sesungguhnya, tetapi apa yang diharapkan oleh yang membayarnya. “Menurut saya, ini bisa membuat lembaga survei ini sebagai mafia-mafia politik dan predator demokrasi. Menurut saya ini membahayakan bagi demokrasi kita,” ujarnya.(an)