JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi)
menegaskan, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di
dunia. Karena itu, tidak mungkin azan tidak diperbolehkan, pendidikan
agama dihapus, apalagi melegalkan perkawinan sejenis.
“Negara kita ini adalah negara dengan
penduduk muslim terbesar di dunia, kita ini juga punya norma – norma
agama, norma – norma kesusilaan, tata krama sopan santun, ya siapapun
presidennya ga mungkin berani melakukan itu,” kata Presiden Jokowi saat
memberikan sambutan pada penyerahan sertifikat hak atas tanah di
Gelanggang Olahraga (GOR) Sahabudin, Kota Pangkal Pinang, Provinsi
Bangka Belitung, Kamis (14/3) siang.
Karena itu, Kepala Negara yang
didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo meminta kepada siapapun, jangan
buat isu yang tidak-tidak, jangan dibuat masyarakat ini resah. “Marilah
kita menggunakan, pemikiran kita, rasionalis kita. Ini engga mungkin,
jangan kemakan,” serunya.
Presiden juga mengungkit isu dirinya
sebagai bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal, menurut
Presiden, dirinya lahir tahun 1961 sementara PKI dibubarkan tahun
1965-1966. “Berarti umur baru 4 tahun, masih balita, enggak ada PKI
balita, itu enggak ada, jangan kemakan isu-isu seperti itu,” ujarnya.
Menurut Kepala Negara, kalau sudah masuk ke bulan-bulan
politik, banyak sekali kabar-kabar fitnah. Untuk itu, Kepala Negara
mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dengan ini. Ia meminta
masyarakat agar menggunakan hati nurani, jangan karena kabar fitnah,
karena kabar hoaks, karena kabar bohong, kita jadi pengaruh dan
meresahkan kita semua.
“Marilah kita menggunakan pemikiran akal
sehat kita untuk melihat hal-hal seperti ini, saya titip itu aja.
Jangan sampai memecah-belah kita semuanya, karena kabar bohong kabar
hoaks, kabar fitnah, yang banyak sekali di media sosial,” tutur Kepala
Negara.
Presiden Jokowi menegaskan sekali lagi,
bahwa aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, aset terbesar bangsa
ini adalah kerukunan, aset dan modal kita ini adalah persaudaraan,
ukhuwah baik ukhuwah Islamiyah ukhuwah wathaniyah kita. “Inilah yang
harus kita jaga bersama-sama,” pungkasny(aul)
